BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 24 April 2009

Pasar PEMILU di Kampung Demokrasi

Bangsa Indonesia belum sepantasnya berbangga dan terlena terlalau jauh atas keberhasilan sistem demokrasi yang terus dibangga-banggakan oleh para elit. Kita harus berkaca pada beberapa sejarah negara yang menggunakan sistem ini sebelumnya. perlu diingat juga bahwa negara kita merupakan negara dengan kultur timur yang sangat kental. haruskah kita menjual "ketimuran" kita dalam gelombang demokrasi yang akan terus menyeret kita? hanya bangsa Indonesia yang akan mampu menjawabnya.
Para elit Indonesia terlalu naif dalam mengartikan makna demokrasi. Parameter kita untuk bertindak selalu berkiblat dan mendewakan sistem yang ada di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara-negara lain yang secara "kasat mata" telah berhasil mengembangkan sistem demokrasi di negaranya. Ingat, negara kita adalah negara timur yang sangat mengagungkan kesopanan dan saling menghargai. Kita bukan negara yang siap mengorbankan kebersamaan dan persaudaraan demi kekuasaan.
Yang lebih mengerikan lagi, para elit, yang selama ini menyatakan akan berkorban atas nama rakyat, justru sibuk sikut-sikutan untuk meloloskan kekuasaan mereka. Janji-janji para elit terlalu indah, menyentuh kalbu. Ibarat kata, sistem demokrasi kita selevel dengan penjual ikan di pasar tradisional. Pasa customer atau pembeli, dalam hal ini masyarakat (konstituen), disugukan berbagaikan keindahan motif ikan. Namun tak pernah kita pedulikan kesegaran ikan tersebut. Dengan senang hati, masayarakat kita pulang dari pasar, membawa ikan, tanapa tahu belakangan bahwa ikan yang ditawarkan pedagang sudah jauh dari kata segar. Begitu juga masyarakat kita. Pasar "dadakan" bernama PEMILU menjanjikan berbagai keindahan dan kesenangan. Berbagai poster, famplet, dan teman-temannya, mewarnai sudut kota dan desa tiap kali ajang ini tiba. Yang lebih menyesakkan dada, masyarakat justru "dilambungkan dan diagungkan" dengan modal baju bergambar partai dan kandidat, yang dengan mudahnya dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp. 5000 per kaos. masyarakatpun rela berpanas-panasan di lapangan terbuka menyambut jagoan mereka di atas panggung, untuk memberikan janji-janji manis, bagaikan lagu nina bobo yang menidurkan. Lebih mengesakkan lagi, tatkala ajang PEMILU tinggalbeberapa jam lagi, "serangan fajar" mulai beraksi. Puluhan ribu sampai ratusan ribu rela digelontorkan demi mendapatkan suara yang signifikan. Sadarkah kita, bahwa kita telah beralih dari Hukum Pasar ke Hukum Rimba? Para kontestan dengan fulus kecil akan menjadi korban dari sejawad mereka dengan dompet tebal. Namun di balik itu, mestinya kita berfikir bahwa semua yang dikeluarkan itu harus kembali. Tak ada yang gratis di dunia ini. Kita tidak sedang hidup di zaman Robinhood, yang rela mencuri demi membantu kaum jalanan. Kita juga tidak sedang hidup di zaman Batman yang katanya "pembela kebenaran".
Yang jelasnya, tidak ada hal yang bisa di dapatkan dalam waktu singkat. Tak ada sihir dalam dunia demokrasi kita. kita harus sabar menanti. Amerika Serikat saj, yang katanya "nenek moyangnya negara demokrasi" butuh ratusan tahun untuk menata sistem demokrasinya. Mudah-mudahan saja, kita akan lebih cepat dari mereka. Sebagaimana jargon dari seorang tokoh"Lebih cepat,lebih baik". Yang disusul dengan "lanjutkan!". Mudah-mudahan juga kita bisa keluar dari sistem Pasar dan Rimba.


Nb; Ini bukan provokasi Pemilu. Ini hanya pandangan seorang anak bangsa.

0 komentar: